
Bendera nasional Indonesia adalah bendera berdesain sederhana dengan dua warna yang dibagi menjadi dua bagian secara horisontal yang mengandung arti warna merah adalah berani dan putih adalah suci, berani berjuang dengan hati yang suci.
Engkaulah perempuankuSeharusnya ini hanya tentang cinta, tak lebih. Sebuah sms masuk dari seorang teman, “Lalu, cinta itu apa day?”. Sebuah pertanyaan yang juga menggelitikku setelah membaca buku yang sama, Ayat-ayat cinta.
Waktu novel ini dijadikan cerita bersambung di koran Republika, aku
sebenarnya tak tertarik, apalagi berhasrat tuk mengikutinya. Pertama, tentu saja karena aku tak membaca Republika secara rutin. Kalau lagi ada ya kulihat, dan cerita bersambung ini tentu saja baru dibaca bila aku sudah kehabisan hal menarik dikoran itu.
Yang kedua, karena aku pikir ini cerita punya Arab, karena nama pengarangnya berbau Arab, Habiburrahman el Shiraezy. Apalagi dengan setting di Mesir, dan sebagian bahasa Arab, Jerman dan Inggris. Aku tak bisa mempercayai ini buatan orang Indonesia. Aku pikir, ini cerita model Najib Mahfoudz. Lagipula aku pikir ini seakan-akan membuktikan sebuah hipotesis betapa penduduk negeri ini tergila-gila dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Arab, seperti yang tercantum dalam kata pengantar buku Even Angel Ask, yang mengatakan bahwa kita sering terpesona bahwa ini harus pakai bahasa Arab, padahal Nabi sendiri mengajarkan khutbah sholat saja dilakukan dengan bahasa penduduk setempat.
Alasan ketiga adalah dalam suatu frame yang sempat aku baca, aku melihat konyol sekali tokoh utama di Novel ini, ketika ia akan menikah, ia diberi biodata dan foto calon istrinya (sesuatu yang aku yakini jalannya), tapi dia tak melakukannya, dan dia baru mengetahui wajah istrinya ketika proses khitbah akan dimulai. Padahal Nabi menganjurkan, lihatlah dari calon istrimu, sesuatu yang akan bisa membuat tertarik.
Tapi kemudian seorang guru meyuruhku membaca Novel ini, ketika pertanyaan tentang cinta, menikah dan calon istri begitu besar memenuhi kepala ini.
“Kamu akan belajar banyak dari sini”, katanya, “sebelum kamu belajar hal yang lainnya”.
Entahlah, bagiku, sebuah rekomendasi buku, buku apa saja, rekomendasi dari mana saja sepanjang rekomendasi itu tidak murahan, membuatku mencari buku tersebut pada hari itu juga. Jadi ingat buku Memoir punya bung Hatta, setelah beberapa lama mendengar buku ini, 2 minggu yang lalu aku menemukannya di Senen, sayang versi Bahasa Inggris, yang membuatku mundur, dan kemudian penjual itu seakan-akan mengejekku, “belum lancar ya?’ hehe.
Ok, buku ini aku buka, aku baca dulu apa kata orang lain tentang buku ini, hmm, recommended banget rupanya. Lalu mulai baca biodata pengarangnya, ternyata Indonesia asli, hanya memang pernah tinggal di Mesir.
Bab-bab awal, penulis mencoba mengenalkan semua tokoh yang nantinya akan terlibat. Lumayan lambat dan bertele-tele sih diawalnya mungkin karena ingin mengemukakan semua hal diawal sih sehingga sebuah perjalanan untuk mengaji saja akan memakan 50 halaman. Tapi mungkin memang cerita ini harus bermula dari sini. Pertemuan tokoh utama yaitu Fahri dengan Maria, seorang Qibti yang hafal surat Maryam; dengan Alicia, wartawan Amerika yang karena dia Amerika tidak disukai di Mesir, sehingga lupa dia adalah perempuan yang harus dihormati yang akan menimbulkan konflik selama di Bus; dengan Aisha, wanita campuran Jerman dan Turki yang kaya raya yang nantinya akan jadi istrinya; semua ingin dijabarkan diawal. Jujur kejutannya sudah hilang, ketika semua tokoh perempuan muncul, hmm ini akan jadi cinta segilima ketika tokoh Nurul, putri Kiai besar di Jawa dan Nourma, wanita yang ditolong oleh tokoh utama, muncul.
Naif dan sederhana bagiku, tapi entahlah ada sesuatu yang menarik hingga tak bisa aku berhenti. Cerita mengalir indah, tapi mungkin karena penulis tahu anatomi masyarakat Mesir, kelemahan dan harga dirinya, ini mirip sebuah sajian antropologi Cliffort Geertz. Kita dibawa, seakan-akan menjelajahi sebuah masyarakat yang begitu dekat dengan hidup kita. Pengetahuan hadis dan ayat Alqurannya, membuatku merasa kecil hati, aku tak tahu apa-apa rupanya. Tapi yang tentang kesehatannya, hehe disini boleh nyombong, banyak yang salah dalam buku ini.
Ini tentang cinta, penuh, hampir satu buku. Tapi disini cinta itu terasa indah, romantis tanpa harus sevulgar novel Indonesia sekarang. Tentang cinta yang disandarkan pada Allah, dan Allah membalasnya dengan amat baik. (jadi ingat seorang teman, ketika dia bilang hanya akan menikah dengan orang yang bisa mencintainya karena Allah).
Ceritanya bergulir cepat. Fahri disini menjadi pria ideal. Dengan Alicia, wartawan dari Amerika itu, ia mencoba menjawab semua pertanyaan tentang Islam itu apa. Ia merangkum berbagai tulisan untuk menjawabnya. Dan setelah selesai, ia memberikan tulisan itu pada Alicia yang nantinya akan menerbitkannya di Amerika. Dengan Maria,
gadis qibti itu, mereka berteman dengan sangat baik, Fahri berusaha menjadi tetangga yang baik bagi keluarga Maria. Dan semua kebaikan itu, menimbulkan pesona yang percikan apinya menyentuh hati Maria. Dengan Nourma, ia menjadi pahlawannya. Ialah yang berani untuk menjauhkan Nourma dari orang tuanya yang galak, mencari tahu jati diri orang tua Nourma yang kemudian menyatukan Nourma dengan orang tua
kandungnya. Dengan Nurul, anak kiai besar di pulau Jawa, mereka tahu kemana akan saling meminta tolong jika diperlukan. Simpati itu timbul, dan bagi Fahri sendiri, nama Nurul mampu menggetarkan hatinya walaupun disatu sisi ia tahu ada perbedaan kufu dan perasaan rendah dirinya. Dengan Aisha, ia terlihat luar biasa dimata Aisha, kefasihannya,
kedalaman agamanya dan kemuliaan akhlaknya memikat hati Aisha. Di sini cinta bersemi, tetapi disini juga cinta menemukan pelabuhannya. Disini cinta tak menjadi murahan yang diobral setiap saat ketika sesuatu belum jelas halalnya. Fahri memiliki rencana dalam
hidupnya. Ditahun itu ia berniat menikah, tetapi ia akan membiarkan waktu mengalir dan biarkan Alloh yang menentukan takdirnya. Tiba-tiba Nurul memintanya untuk menghubungi seorang kenalannya. Keterbatasan waktu Fahri membuatnya tak bisa memenuhi dengan cepat. Disisi lain Fahri diminta guru ngajinya untuk menikah dengan seorang yang memintanya yang dikemudian hari baru diketahui bernama Aisha.
Disini cinta menemukan jawabannya, tapi disini pula cinta menemukan kesendiriannya. Menikah bukanlah sekedar mencari pilihan. Ia harusnya menjadi pertimbangan objektif bukan subjektif. Kriteria disusun terlebih dahulu, baru pilihan tiba. Seharusnya akal sehat yang bermain, sebab cinta lebih mudah tumbuh daripada karakter pribadi. Setelah mengetahui siapa wanita itu, Fahri masuk kedalam suasana untuk lebih mengetahui visi dan mimpi calon istrinya. Dan keajaiban cinta berbicara, tak ada satupun yang menghalanginya. Maka Khitbah dilakukan dan waktu pernikahan ditentukan.
Tetapi ada waktu yang tak pernah bisa diputar ulang. Kenalan Nurul datang beberapa jam sebelum akad, dan menanyakan bersediakah Fahri menikahi Nurul. Sebuah cobaan datang tepat dihari yang seharusnya bahagia itu. Kenapa terlambat? Kenapa hati yang tergetar hanya tuk satu nama itu terlambat mengetahuinya? Siapa yang salah? Pengecutkah Fahri dengan rasa rendah dirinya? Ada penyesalan hadir, andai waktu… Tapi Fahri tak mungkin mundur, Fahri tak mungkin mengkhianati perjanjian yang sudah dilakukannya. Tapi ternyata hati ini harus menangis.
Ada banyak hati yang patah, ada banyak hati yang menyesali kenapa waktu tak berpihak. Bagi Maria dan Nourma, pertanyaan yang tersisa adalah hanya menangisi yang tersisa. Kenapa bertepuk sebelah tangan? Bagi Nurul, waktulah yang disesalinya. Kenapa terlambat? Andai waktu bisa berputar balik. (sebuah pertanyaan dan permintaan yang sama padaku terjadi beberapa waktu lalu). Tapi jodoh adalah urusan-Nya, bukan milik kita. Lihatlah bagaimana mereka menyikapinya. Bagi Nurul, hidup harus berlanjut. Menikah bukanlah sebuah urusan yang bisa ditunda. Cinta itu tetap ada, tapi menghadapi realitas lebih penting lagi bagi jiwa matang yang menyandarkan cinta pada Sang Pemilik cinta. Nurul menerima lamaran dari pria lain, dengan keyakinan bahwa cinta adalah urusan-Nya, Dia akan menumbuhkan bunga lain ditaman hati jika Dia berkehendak. Bagi Maria, ini adalah kepedihan. Maria sakit, koma, yang hanya terobati oleh Fahri. Atas kebesaran jiwa Aisha, istri Fahri, Fahri akhirnya diizinkan menikah dengan Maria.
Sedangkan Nourma, ternyata ia hamil setelah diperkosa bapak angkatnya. Dan cerita mengalir menuju klimaks ketika Nourma menuduh Fahri memperkosanya. Tapi kebenaran itu milik Allah, jawaban itu pun muncul diakhir cerita. Fahri bebas, Nourma mengakui kebohongannya adalah usaha agar Fahri mau menikah dengannya. Lalu cinta itu apa? Pertanyaan itu masih tersisa dan mungkin kita punya jawabannya sendiri. Ia adalah sebuah hal abstrak, karunia-Nya agar kita tahu arti dari kasih sayang itu, agar hidup kita bisa selalu terpenuhi dengan senyum, ketika kebahagiaan itu muncul melihat wajah saudaramu, kekasihmu atau orang tuamu. Bahkan udara ini pun bukti cinta-Nya pada kita.
Ini harusnya bukanlah tentang apakah aku ridha terhadap keputusan-Mu, tapi tentang “Engkaulah yang berhak menegurku hingga Engkau ridha “.
(doa Muhammad di Thaif)
http://achmatim.blogsome.com/2005/11/27/resensi-ayat-ayat-cinta/
Begitu banyak hal menakjubkan yang terjadi dalam masa kecil para anggota Laskar Pelangi. Sebelas orang anak Melayu Belitong yang luar biasa ini tak menyerah walau keadaan tak bersimpati pada mereka. Tengoklah Lintang, seorang kuli kopra cilik yang genius dan dengan senang hati bersepeda 80 kilometer pulang pergi untuk memuaskan dahaganya akan ilmubahkan terkadang hanya untuk menyanyikan Padamu Negeri di akhir jam sekolah. Atau Mahar, seorang pesuruh tukang parut kelapa sekaligus seniman dadakan yang imajinatif, tak logis, kreatif, dan sering diremehkan sahabat-sahabatnya, namun berhasil mengangkat derajat sekolah kampung mereka dalam karnaval 17 Agustus. Dan juga sembilan orang Laskar Pelangi lain yang begitu bersemangat dalam menjalani hidup dan berjuang meraih cita-cita. Selami ironisnya kehidupan mereka, kejujuran pemikiran mereka, indahnya petualangan mereka, dan temukan diri Anda tertawa, menangis, dan tersentuh saat membaca setiap lembarnya.Buku ini dipersembahkan buat mereka yang meyakini the magic of childhood memories, dan khususnya juga buat siapa saja yang masih meyakini adanya pintu keajaiban lain untuk mengubah dunia: pendidikan. Saya sangat mengagumi novel Laskar Pelangi karya Mas Andrea Hirata. Ceritanya berkisah tentang perjuangan dua orang guru yang memiliki dedikasi tinggi dalam dunia pendidikan. [Novel ini menunjukkan pada kita] bahwa pendidikan adalah memberikan hati kita kepada anak-anak, bukan sekadar memberikan instruksi atau komando, dan bahwa setiap anak memiliki potensi unggul yang akan tumbuh menjadi prestasi cemerlang di masa depan, apabila diberi kesempatan dan keteladanan oleh orang-orang yang mengerti akan makna pendidikan yang sesungguhnya. (Kak Seto - Ketua Komnas Perlindungan Anak) Ramuan pengalaman dan imajinasi yang menarik, yang menjawab inti pertanyaan kita tentang hubungan-hubungan antara gagasan sederhana, kendala, dan kualitas pendidikan. (Sapardi Djoko Darmono - Sastrawan dan Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UI) Di tengah berbagai berita dan hiburan televisi tentang sekolah yang tak cukup memberi inspirasi dan spirit, maka buku ini adalah pilihan yang menarik. Buku ini ditulis dalam semangat realis kehidupan sekolah, sebuah dunia tak tersentuh, sebuah semangat bersama untuk survive dalam semangat humanis yang menyentuh. (Garin Nugroho - Sineas) Cerita Laskar Pelangi sangat inspiratif. Andrea menulis sebuah novel yang akan mengobarkan semangat mereka yang selalu dirundung kesulitan dalam menempuh pendidikan. (Arwin Rasyid - Dirut Telkom dan dosen FEUI). Inilah cerita yang sangat mengharukan tentang dunia pendidikan dengan tokoh-tokoh manusia sederhana, jujur, tulus, gigih, penuh dedikasi, ulet, sabar, tawakal, takwa, [yang] dituturkan secara indah dan cerdas. Pada dasarnya kemiskinan tidak berkorelasi langsung dengan kebodohan atau kegeniusan. Sebagai penyakit sosial kemiskinan harus diperangi dengn metode pendidikan yang tepat guna. Dalam hubungan itu hendaknya semua pihak berpartisipasi aktif sehingga terbangun sebuah monumen kebajikan di tengah arogansi uang dan kekuasaan materi. (Korrie Layun Rampan - Sastrawan dan Ketua Komisi I DPRD Kutai Barat)Hari ini terasa begitu cerah. Aku keluar dari rumahku setelah mencium kedua tangan orang tuaku. Sebelum berangkat, ibu mengingatkanku agar aku mengerjakan ujian dengan teliti. Kata ibuku sebenarnya aku ini pandai tapi kalau sudah ujian sifat cerobohku tiba-tiba kambuh. Tak hanya ibuku saja yang berkata seperti itu guru-guruku di sekolah juga mengatakan hal yang sama. “ Sebenarnya kamu itu pandai Zestha tapi kenapa saat ujian nilai kamu jeblok. Padahal ulangan harianmu bagus-bagus ” kata salah seorang guru matematikaku.
Tin…tin… Tiba-tiba saja lamunanku dibuyarkan oleh klakson sepeda motor tetanggaku. “ Dik…Bareng yuk? Soalnya aku juga lewat arah sekolahmu.” Kak Anjez menawari Zestha.
“ Makasih kak. Tapi nggak usahlah kak lagian aku masih mau menikmati udara pagi hari yang sejuk ini.” Kataku menolak ajakan kak Anjez. Sebenarnya dalam hati Zestha sangat tergiur oleh ajakan kak Anjez tapi Zestha tidak mau nantinya dicap orang-orang sebagai cewek bensin seperti kebanyakan teman-temannya. Walaupun pernah satu ketika tetangganya pernah mengajaknya naik sepeda kayuh tetapi Zestha juga menolaknya. Begitulah prinsip yang selalu dipegang teguh oleh Zestha. Sesampainnya di depan gang, tak lama kemudian angkot yang berwarna kuning berhenti di depannya setelah Zestha melambaikan tangan. Dan 45 menit kemudian angkot yang Zestha tumpangi telah sampai di depan gerbang sekolahnya.
Zestha tidak langsung ke tempat ruang ujian karena memang ruangannya ini baru saja dibuka 15 menit sebelum bel masuk. Tujuan pertamanya yaitu menghampiri ruang ujian sahabatnya Ralda.
“ Ngapain Zes senyum-senyum gak jelas kayak gitu. Gila ya? “Tanya Ralda menanyakan keadaanku sembari menempelkan tangannya ke jidatku. “ Wah…sama nih keadaannya kayak ayam tetanggaku yang baru mati kemarin? ” Lanjut Ralda mengomentari keadaanku.
“ Heh! Kurang anjrid Ral…” Kataku spontan
“ Abis… Gak ada angin gak da ujan senyam-senyum kayak monyet!”
“ Bagus!!! Tadi ayam sekarang monyet abis ini apalagi? Nggak sekalian sekebun binatang dikeluarin semuanya. ” jawab Zestha sambil manyun.
“ Becanda doang kok…. Uthuk…uthuk…uthuk Zestha imut. Tapi lebih imutan yang tadi. “
“ Haa…ah Ralda? Aku tuh senyum-senyum terus soalnya kan ini hari terakhir kita ujian neng! Beberapa jam lagi kita bisa bebas dari semua beban minggu ini… Urgh….”
“ Tapi kan Zes nilai ujian kita belum keluar. “
“ Ntar kalo kena remidi gimana? Terus kan masih ada remidi. Kita juga harus belajar lagi Zes? ” Kata Zestha mendahului perkataan yang ingin diucapkan Ralda. “ Kamu mau ngomong itu kan Ral. ”
“ Iya… ”
“ Ketebak banget jalan pikiran kamu. Negative thinking terus! ”
“ Tapi kan bener? ”
“ Yah… emang bener lha wong aku yang ngomong! ” jawab Zestha sambil menyombongkan diri.
“ Ye… ”
Mereka berdua tertawa bersama dalam keadaan teman-temannya di kelas sedang asyik belajar untuk ujian jam pertama yang tinggal menghitung menit sedangkan mereka berdua malah sedang asyik-asyikan bergurau. Sebenarnya sebelum Zestha datang Ralda sedari tadi sibuk mengulang pelajaran yang tadi malam dia pelajarin tetapi setelah Zestha datang semua keadaan berubah. Karena Zestha pikir mempelajari pelajaran untuk ujian di sekolah bakalan membuat otak Zestha semakin ruwet. Memang berbeda pikiran orang pintar dengan pikiran orang yang biasa-biasa aja seperti Zestha. Hehehe…
Teeeeeeee…..t……
“ Waduh mampus aku. Udah bel nih… Aku balik dulu ya Ral “ Pamit Zestha.
“ Iya… cepetan!!! ”
Saat keluar dari kelas ternyata salah seorang gurunya sudah berada di depan pintu.
“ Eh Ibu Mitha…Makin cantik aja Bu ” goda Zestha sembari menyalami tangan Bu Mitha.
“ Udah sana masuk ke kelasmu Zes…” Komando Bu Mitha.
“ Siap Bu… ” Jawab Zestha sambil bergaya seperti seorang militer yang sedang dikomando oleh komandannya.
“ Dasar Zestha masih sempet-sempetnya ” Gumam Ralda yang telah duduk manis dibangkunya di deretan nomor 3 dari belalakang.
Setelah bel istirahat berbunyi tujuan yang pertama tetap seperti awal yaitu ke kelas Ralda. Tetapi sebelumnya dia menyempatkan dulu untuk melihat nilai ujian yang keluar. Sejauh ini hanya nilai Matematika dan TI yang tertempel di papan pengumuman sekolah. Dan alhamdulillah Zestha tuntas semuanya. Sesampainya di sana Zesta ikutan binggung karena kertas ulangan Ralda belum dibagikan. Tapi tiba-tiba Prisi mengajak Ralda untuk melihat nilai di papan pengumuman sedangkan aku ditinggal begitu saja oleh Ralda di kelasnya.
“ Yah…gini deh kalo dia udah binggung. Tau ah… ” Gumamku dalam hati. Untung saat aku keluar di depan kelas lewatlah karla.
“ Eh… Kar ntar jadi kan? ” Tanyaku kepadanya.
“ Jadi. Tapi aku nggak bawa motor nih. ”
“ Yah… terus gimana dong. Jalan? Wah…wah… ” Tapi setelah kupikir sejenak. “ Ya udahlah liat ntar. Sissy mau nebengin nggak ya? ”
“ Bukannya Sissy bareng ma temennya ”
“ Iya…ya… ”
“ Ya udah deh Zes. Ntar diomongin lagi. Aku ke kelas ya… udah bel nih ”
“ De… ”
Semenjak insiden di kelas Ralda tadi aku belum melihatnya sama sekali setelah bel pulang ini. Mungkin tadi dia udah pulang sewaktu aku ke kelas Karla.
“ Ya udah deh kar…kita jalan aja yuk ke warnetnya? ” Ajakku kepada Karla
“ Aku sih terserah aja. ”
“ Jauh gak Kar? ”
“ Aku juga gak tau Zes…”
“ Ya… udahlah sekalian jalan siang-siang. Let`s go…”
Saat berjalan menuju warnet bersama karla, aku banyak bicara dengannya juga soal kehidupan pribadiku yang memang tertutup diantara teman-teman sekolahku.
“ Kamu kok jutek banget sih ama cowok! Ehm…iya kamu tuh mirip Wonderwomen. Buktinya nih..kamu tuh mandiri banget ” tanya karla saat kami berdua berjalan menuju warnet.
“ Masa sih Kar? “ Aku tertawa setelah itu.
“ Ya iyalah…kalo nggak kenapa si Adan yang ngejar-ngejar kamu dari kelas 1 nggak pernah kamu tanggepin! ”
“ Kenapa yah? Aku juga nggak tau kenapa aku bisa sebel banget ma tuh anak. ”
“ Tapi jangan mau Zes ma Adan! Soalnya dia playboy ”
“ Nah…mungkin itu juga! ” Jawabku ngeles. “ Eh… yang itu ya warnetnya Kar? ”
“ Bukan! Masih kesana lagi ”
“ Lumayan jauh nih. ”
Tapi tak lama kemudian mereka pun sampai di warnet yang mereka cari. Dan mereka langsung masuk mencari komputer yang posisinya asyik.
Pertama-tama aku masuk ke dunia maya ini, tujuanku untuk membuka Freindster milikku dan kemudian chatting dan sekedar browsing mencari walpaper lucu. Tak penting memang, tapi beginilah caraku untuk mengusir rasa jenuh. Lama-lama aku bosan juga dengan kata-kata gombal dari lawan chattingku. Aku langsung kembali ke Freindsterku dan mencoba mencari FS ( singkatan dari Freindster ) seseorang yang sudah 2 tahun ini tak pernah lagi kutemui. Yang lebih tepatnya semenjak lulus dari SMP aku tak pernah lagi bertemu dengannya.
Sewaktu SMP dulu aku dan Fashry selalu saja digosipkan menjadi sepasang kekasih. Tepatnya gosip itu sejak kelas 1 SMP sampai akhirnya lulus SMP. Penyebab utama gosip itu adalah saat Fashry mengirim sepucuk surat cinta kepadaku. Tetapi isi surat itulah yang membuatku pada saat kelas 1 sangat membencinya. Isi surat itu menyatakan kalau dia menyukaiku tetapi ada satu kata yang membuatku sangat membencinya yaitu kata TERPAKSA diantara kaa-kata yang Fashry tulis. Entah apa artinya. Dan bodohnya aku tak membalas apa-apa karena aku sudah terlanjur marah. Meskipun aku tak tahu maksudnya. Tetapi saat kelas 2, aku tak pernah menduganya kalau ternyata aku berada di kelas yang sama dengannya. Di kelas ini aku sering memancingnya agar cemburu. Di saat itu pula dulu aku melihat rona api cemburu di matanya. Tapi tak pernah sekali pun Fashry menyatakan perasaan kepadaku. Kemudian saat di kelas 3 kami berada di kelas yang berbeda. Sampai kelulusan SMP tak pernah sekali pun kata-kata cinta keluar dari bibirnya.
Dan setelah 2 tahun ini ternyata aku sangat kehilangan dirinya. Aku sangat menantinya. Walaupun itu hanya sekedar bertemu saat di jalan aku ingin hal itu terjadi.
Tiba-tiba aku tak menyangka ada sebuah foto di album FS miliknya. Di foto itu dia bersama seorang perempuan. Pertama, kukira itu hanya adiknya tapi setelah foto kedua kubuka perkiraan itu salah besar ternyata… dia adalah kekasih Fashry. Rasanya kilatan keras menyambar diriku saat itu. Aku mencoba menahan tangisku yang sebenarnya aku tak setabah itu. Namanya Ayma. Dia gadis yang cantik dan sepertinya juga baik. Pantaslah Fashry mendapatkan gadis semanis itu. Kemudian aku tak tahan melihat semuanya dan aku langsung log-out FS milikku. Dan dengan sekejap aku mengstop komputer yang kupakai.
kemudian aku pindah di samping Karla sembari mengirimkan SMS kepada Ralda tentang peristiwa barusan. Aku terus memencet huruf-huruf di Hpku sehingga menjadi rangkaian keluh kesahku padanya. Aku menyuruh Karla agar segera pulang.
Tak lama kemudian aku telah berada di Angkot yang akan membawaku pulang. Gerimis hujan yang mengiringiku pulang mungkin ingin mewakili rasa kecewa dan hancurnya hatiku saat ini.
Ingin sekali ku menagis sekencang-kencngnya tapi aku mencoba menahannya kuat-kuat agar air mataku ini tak tumpah. Tiba-tiba aku teringat kata-kata karla tadi saat kita berdua berjalan menuju warnet. “ Kamu kok jutek banget sih ama cowok! Ehm…iya kamu tuh mirip Wonderwomen. Buktinya nih..kamu tuh mandiri banget ”.
Kamu salah kar, aku bukanlah seorang wonderwomen seperti yang kamu pikir. Aku hanya seorang cewek biasa yang bisa dengan mudah menangis hanya karena seorang cowok. Because I`m not wonderwomen karla… i`m still ordinary girl! That`s it…
|
|